23 Oktober 2020

Seorang Pesepeda Asal Sleman Ditemukan Meninggal di Gubuk Diduga Kelelahan

3 min read

FluTulang – Seorang Goweser ditemukan meninggal di daerah Tempel, Minggu (26/7/2020) pagi. Dari hasil pemeriksaan, korban meninggal diduga karena kelelahan saat bersepeda di pagi itu.

Kapolsek Tempel Komisaris polisi Solichul membenarkan hal tersebut.Korban bernama Harun Irwanto, pria berumur 57 tahun yang merupakan warga dusun Sinduadi, Mlati, Sleman.

Semula korban bersama rombongan memulai kegiatan bersepeda dan berangkat dari rumah pukul 06.30 WIB. Tujuannya adalah ke daerah Bligo, Magelang.

“Dan sekitar pukul 09.00, korban dan rekan rekannya mau pulang, kebetulan korban naik sepeda di depan lebih dulu,” jelas beliau.

Sesampai di Dusun Senoboyo, Banyurejo, Tempel sekitar pukul 09.27 WIB, korban duduk beristirahat sembari menunggu rekan-rekannya yang dibelakang di sebuah gubug.

“Korban dalam keadaan duduk dan bersandar di tiang gubug, saat teman korban sampai di TKP korban sudah ditemukan sudah meninggal dunia,” terangnya.

Baca juga : Viral Keributan di Jalan Affandi Gejayan hingga Meludahi Kamera Pengendara Motor

Tak ada tanda-tanda penganiayaan, maupun kecelakaan di tubuh korban.Beliau menduga korban kelelahan menaiki sepeda, terlebih korban juga mempunyai riwayat lemah jantung.

Atas kejadian tersebut, pihak kepolisian melakukan evakuasi korban dan menghubungi keluarga agar jenazah korban dapat dimakamkan segera.

Bersepeda kini sedang menjadi tren di masyarakat di tengah pandemi Virus Corona.Banyak masyarakat yang meramaikan jalanan dengan bersepeda.Namun kabar buruknya, beberapa pesepeda dikabarkan kolaps dan meninggal dunia.

Setelah sempat beberapa waktu lalu ada pesepeda meninggal di Kulonprogo DIY, kemarin seorang pria tiba-tiba kolaps dan meninggal dunia saat bersepeda di Jalan Raya Cimatis Kelurahan Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna, Bekasi pada Minggu (21/6/2020).

Dari hasil pemeriksaan sementara, korban diduga meninggal dunia akibat serangan jantung.

Baca Juga : Seorang Wisatawan di Pantai Depok Meninggal Tertabrak Perahu

Belum lama ini, insiden serupa juga menimpa pesepeda di Tangerang Selatan, Selasa (23/6/2020).Ia mendadak kolaps saat menggowes. Jelas, hal ini menjadi kabar pahit di tengah tren gaya hidup sehat melalui bersepeda yang kembali marak di Ibu Kota.

Kabar ini memunculkan pertanyaan, benarkah serangan jantung selalu mengintai para pesepeda?Jawabannya tidak selalu, menurut dokter spesialis jantung Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Dian Zamroni.

” Serangan jantung bukan hanya bisa terjadi pada pesepeda, pada pegiat olahraga lain pun bisa terjadi serangan jantung,” ujar Dian saat dihubungi┬áKompas.com┬ápada Rabu (24/6/2020).

“Kasusnya Ashraf (Sinclair, sering olahraga di pusat kebugaran), kemudian Adjie Massaid habis main futsal buktinya,” kata dia.

Dian menambahkan, secara umum serangan jantung pada atlet terjadi karena beragam faktor.

Pertama, faktor bawaan seperti jenis kelamin pria yang lebih rentan mengalami serangan jantung, usia yang mulai menua, serta keturunan.

Kedua, faktor fisiologis seperti meliputi kadar kolesterol, riwayat diabetes, perokok berat, obesitas, dan darah tinggi.

Kombinasi antara faktor-faktor barusan menjadi pemicu serangan jantung saat berolahraga, dalam konteks ini bersepeda.

Risikonya kian parah apabila korban sebelumnya jarang berolahraga, namun bersepeda dengan intensitas yang melebihi kapasitas kemampuan jantung yang kurang terlatih.

“Ada orang yang lagi getol-getolnya (bersepeda atau berolahraga) karena baru pertama kali, kemudian dia paksakan, sehingga kapasitas fungsi jantungnya kayak digeber,” jelas Dian.

“Yang jadi persoalan adalah, ketika kita bersepeda, apalagi temannya banyak, itu pasti enggak mau ketinggalan. Dia sudah merasa enggak kuat, tapi dia paksakan.

Kalau jantungnya enggak kuat, ya sudah, kolaps,” ungkap spesialis jantung yang juga praktik di RS Universitas Indonesia itu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *